Love & Hate Relationship with Turkish Airlines

Sudah lama gak update blog, kemana aja?

Maaf buat pengunjung setia blog kami (kesannya banyak banget), sudah lama tidak ada update karena beberapa minggu lalu kami sekeluarga mudik ke Indonesia. Nah meskipun biasanya kami mudik bersama Garuda Indonesia atau Emirates, tahun ini kami pulang ke tanah air menggunakan jasa Turkish Airlines. Kenapa? Gampang aja…ada tiket promo untuk Summer 2017. Jarang loh ada tiket promo di peak season liburan πŸ™‚

Tapi kok judulnya Love & Hate Relationship, Turkish Airlines kan enak? Nah ini dia cerita kami…yang intinya definisi “enak” bagi tiap orang itu berbeda dan juga pasti ada unsur “luck“. Dan satu lagi, pengalaman terbang itu gak cuma selama di pesawat ya, dari kita check-in sampai collect baggage itu juga penting.

Love
Beberapa teman yang pernah menggunakan jasa Turkish Airlines baik ke Eropa ataupun sebaliknya ke Indonesia memang sangat merekomendasikan maskapai ini dengan alasan makanannya enak. Gak salah sih. Meskipun dari total perjalanan, makanan yang menurut saya enak itu hanya dari Jakarta – Istanbul dan Istanbul – Amsterdam. Waktu kita on the way ke Jakarta, makanannya biasa saja. Bahkan yang kerennya makan malam trip Jakarta – Istanbul, nasi goreng ayam, rasanya Indonesia banget. Agak pedas tapi maknyuss….

Entertainment systemnya juga keren, dilengkapi dengan film-film dan TV series yang terbaru. Live TV dan WiFi service pun tersedia. Tapi bayar, kalau gak salah 10USD untuk 1 jam.

Chicken Curry yang nasinya kurang lembut dan ayamnya sedikit hambar

Hate
Nah ini dia bagian yang agak panjang….get ready!

Setiap mudik, kami selalu memesan tiket barengan, alias satu kali booking untuk 3 orang. Anehnya ketika mau check-in online (catatan: mungkin karena pakai tiket promo, pemilihan kursi cuma bisa dilakukan 24 jam sebelum keberangkatan), kami bertiga duduk jauh terpisah satu sama lain. Lah kok ya sistemnya didesain tidak pakai common sense? Masa ada keluarga dengan anak 2,5 tahun pesan tiket barengan tapi duduknya semua terpisah jauh?

Karena saya gak bisa ganti kursi secara online, saya pun menelpon pihak Turkish Airline melalui contact center mereka. Nah agent yang menolong saya di telpon memastikan bahwa tiket sudah diperbaiki dan kami duduk bersama-sama untuk semua leg. Betapa terkejutnya kami ketika check-in di Schiphol airport, ternyata kursi yang kami dapat Istanbul – Jakarta balik lagi ke komposisi awal waktu saya coba check-in online, alias terpisah. Dan dengan entengnya check-in agent pun bilang “Sorry, there’s nothing we can do from here as this is a fully booked flight. Try in Istanbul!

Sesampainya di Istanbul Atartuk airport, kami pun bergegas menuju Transfer Desk. Setelah menunggu antrian cukup lama, kami pun harus kecewa karena agent on desk pun bilang hal yang sama “The flight is full. Try to exchange on the plane!“. Padahal, selama masih di Amsterdam dan juga ketika di Istanbul saya terus mengirimkan pesan melalui akun Twitter mereka dan selalu mendapat jawaban bahwa agent Turkish Airlines akan dengan senang hati membantu.

Akhirnya kami pun bisa duduk bersama-sama satu keluarga setelah seorang bapak (atau mungkin mas karena masih muda) bersedia untuk bertukar kursi.

Selain masalah kursi, kami juga kurang nyaman dengan kondisi airport Istanbul Atartuk. Sebagai bandara yang dijadikan untuk hub ke Eropa, rasanya tidak lebih baik dari bandara domestik di Indonesia. Sangat padat dan relatif unorganized. Untuk kenyamanan traveling bersama keluarga rasanya kurang cocok.

 

Nah kurang lebih seperti itu cerita pengalaman kami terbang bersama Turkish Airlines. Setiap traveler pasti punya pengalaman dan kesan yang berbeda, tapi ini lah yang kami rasakan setelah traveling pertama kali sebagai keluarga menggunakan Turkish Airlines. Silakan tinggalkan jejak jika kamu punya pengalaman yang sama atau pun berbeda. Siapa tau masih bisa meyakinkan kami untuk naik Turlish Airlines lagi di masa yang akan datang. Karena saat ini kami sih sudah dalam posisi that trip was our last with Turkish Airlines.

7 Replies to “Love & Hate Relationship with Turkish Airlines”

  1. Beruntung ada satu penumpang yang bersedia bertukar kursi ya mas. Emang kasihan kalau anak jauh dari orang tua.

    Penasaran sama Turkish, semoga kapan-kapan berkesempatan nyobain πŸ™‚ amin.

    1. Yup, Puji Tuhan ada orang baik yang bersedia tukeran tempat duduk πŸ™‚

  2. Wah belum pernah pake turkish kalo akunya pribadi.. Utk eropa aku pernahnya pake lufthansa dan KLM. Suami perna sih pake turkish tp mungkin krn wkt itu dia pergi sendiri, jd g ada prngalaman aneh2 :D. Ga asik juga yaaa kalo duduknya hrs terpisah gitu

    1. Nah ini dia yang aneh memang. Baru kali ini pesan tiket sekeluarga dapat seatnya terpisah. Tidak pernah punya masalah yang sama dengan maskapai penerbangan lain.

  3. Yang enak dari Turkish lain adalah branded amenity kits even buat Economy. Waktu itu adek saya dapet brand Chopard πŸ˜€ Sekarang masih ada nggak ya?

    1. Amenities masih dapat. Tapi TA branded πŸ™‚

  4. Mei lalu saya naik Turkish juga mbak. Berdua saja dengan anak. Yang seru pas pulang dari Instanbul – Jakarta kami dapat kursi paling belakang. Asik sih karena cuma berdua saja, bukan yang tiga kursi itu. Mainan buat anak-anaknya juga oke. Amenities yang didapatkan waktu pergi dan pulang berbeda merknya, isinya sih sama. Cuma yang waktu pergi lebih bagus…

    Setuju buat airport di Istanbul… Sangat tidak enak untuk transit. Trolley sangat terbatas, stroller anak tidak ada, kamar mandi tidak bersih. Hanya plusnya ada Musholla untuk sholat. Kalau dibandingkan Terminal 2 Soeta, masih lebih bagusan Soeta dibandingkan Ataturk Intl Airportnya. Untung transitnya ga lama2…hehehe…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.